Orang Ketiga

Rambut Mak Dang kok sudah putih semua? tanyaku.

Ia tertawa terbahak bahak sambil memegang kepalanya yang sudah dipenuhi uban.

Mak Dang merupakan panggilan paman untuk orang Minangkabau. Namanya Tokri. Dia adalah anak dari kakak ibu ku. Tidak sempat menyelesaikan Sekolah Dasar, hanya bermodalkan tenaga untuk menafkahi keluarganya. Sehari-hari Mak Dang bekerja sebagai petani, beternak bebek dan sapi. Usianya mungkin sudah 55 tahun. Aku tidak tau persis berapa usia Mak Dang, karena beliau tidak mau bercerita tentang hari kelahirannya.

Menurut ku Mak Dang adalah orang yang pekerja keras. Apapun pekerjaan pernah ditekuni olehnya, mulai dari mencari kayu di hutan dan tinggal disana, ikut bekerja keluar kota sebagai buruh sawit sampai berbulan-bulan, melakoni 3 pekerjaan dalam satu hari yaitu bertani, mengembala bebek seraya mengembala sapi milik juragannya.

Ketika aku pulang pada tahun 2016 yang lalu, ia datang ke rumah ku karena tau bahwa aku sudah di rumah. Ibu menghidangkan kopi panas dan oleh oleh yang aku bawa dari tanah Jawa. Suaranya besar, beliau suka tertawa, suka bercerita apa saja tentang pengalaman hidupnya. Aku tau bahwa Mak Dang adalah pekerja keras karena semenjak muda selalu digembleng untuk bekerja, kehidupan waktu Mak Dang muda sangat Sulit. Sekolah adalah kemewahan yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang seperti zaman sekarang.

Perkenalan tentang Mak Dang aku cukupkan sampai disitu. Aku ingin bercerita tentang Mak Dang dan Aku.

Pada tulisan “Makna Kehilangan” aku sudah menceritakan sedikit tentang paman yang aku sebut dalam tulisan itu. Yap benar sekali, dia adalah Mak Dang Tokri.

Semenjak Bapak meninggal tahun 2007, Mak Dang adalah salah satu pihak ketiga yang berperan dalam proses pendidikanku.

Kehidupan ekonomi Mak Dang hanya pas-pasan. Membantu dengan materil adalah jalan keluar yang mustahil dilakukan. Tapi dia membantu dengan mengajak aku untuk ikut bekerja dengannya. Walupun sudah aku jelaskan dalam tulisan “Makna Kehilangan”, aku ingin mengulangnya sedikit bahwa Mak Dang-lah yang membawa aku ikut bekerja sebagai buruh proyek pembangunan Tabek Panjang selama 14 hari. Pada pukul 07.00 wib pagi aku sudah sampai di rumah Mak Dang untuk bersiap berangkat kerja. Aku berjalan kaki dari rumah menuju rumahnya, bekal untuk bekerja sudah disiapkan oleh istrinya. Selama aku bekerja sebagai buruh proyek aku mendapatkan penghasilan sebesar Rp.300.000. Sungguh sebuah nilai mata uang yang sangat tinggi nilainya bagi seorang anak SMP.

Waktu aku masih bekerja sebagai buruh proyek, Mak Dang belum memiliki kendaraan. Kami menumpang dengan tetanggnya untuk berangkat. Ketika aku kelas 2 SMA, baru-lah Mak Dang membeli sepeda motor. Sepeda motor yang dibeli dengan cara kredit itu langsung dipinjamkan kepada ku untuk mengojek. Walaupun waktu itu belum ada plat nomor kendaraannya, motor itu sudah aku gunakan untuk mengojek di Pasar Minggu Guguak.

Mak Dang datang pukul 04.00 wib pagi ke rumah untuk mengantarkan motornya, awalnya aku sudah bilang supaya aku saja yang menjemput motor kerumahnya. Namun, dia bilang “kamu kan ga punya motor”, biar Adang saja yang ke rumah”. Sampai dengan aku tamat SMA, setiap hari Minggu pagi Mak Dang selalu datang ke rumah untuk mengantarkan motornya. Pukul 05.00 pagi, aku sudah siap siap untuk mencari nafkah. Udara di kampung ku dingin sekali apalagi pagi hari, karena kami tinggal di daerah kaki Gunung Talang

Pelanggan ojek ku adalah masyarakat yang tinggal di 3 nagari, Koto Gadang Guguak, Jawi-jawi, dan Koto Gaek. Pasar Minggu adalah pasar pagi sampai sore hari di kampung kami, hanya satu kali dalam satu minggu. Aku mulai mengojek jam 5 pagi, dan selesai pada pukul 3 sore. Kadang juga aku lanjutkan sampai waktu shalat maghrib kalau ada acara “baralek/kondangan, Begitulah aktivits ku sampai dengan tamat SMA.

Ketika pendidikanku hampir selesai. Aku bercerita kepada Mak Dang tentang keinginanku melanjutkan kuliah. Mak Dang sangat mendorong keinginan itu. “Bagus, nanti kalau ada masalah akan kami carikan solusi, sekarang coba saja dulu”, ucapnya sambil menyalakan rokok ditangannya. aku mengiyakan.

Akhirnya aku coba mendaftar di salah satu kampus di Pulau Jawa. Hasilnya aku diterima.

Mak Dang adalah orang kedua setelah ibu ku yang aku sampaikan kabar gembira itu.  Pukul 7 malam aku sampai dirumahnya, untuk menceritakan kebahagiaan itu. Dia sudah menebak akan ada kabar gembira, karena dari raut wajah ku sudah terlihat olehnya. Aku duduk dan menerima hidangan kopi panas dari istrinya.

Awalnya kami bercerita tentang sapi-sapi peliharaannya. Tiap kali aku ke rumahnya, selalu aku diceritakan tentang sapinya. Kemudian dia baru bertanya tentang tujuan aku datang ke rumahnya. Aku sampaikan,

“Dang, Alhamdulillah aku diterima kuliah di Jawa”, kata ku sambil menatap rambut putihnya.

Tiba tiba………… Mak Dang menangis.

Suasana rumah yang awalnya dipenuhi gelak dan tawa, langsung berubah jadi tangis anak dan istrinya. Mereka senang, namun terharu. Aku-pun ikut menangis.

“Alhamdulillah Ya Allah, Mak Dang tidak bisa membantu apa-apa Nter, tapi Adang senang mendengar kabar ini, ucapnya sambil tersedan sedan.

“Tidak Dang. Selama ini Mak Dang sudah berkorban banyak untuk aku dan keluarga di rumah, Mak Dang selalu menyisihkan uang untuk biaya sekolah adik ku. Mak Dang selalu meminjami motor untuk aku mengojek. Mak Dang selalu menerima aku kalau di rumah sedang tidak ada apa apa untuk dimakan,” balas ku sambil menangis.

“Adang masih tidak percaya kamu bisa diterima kuliah Nter” lanjutnya. Kita semua orang miskin Nter, bisa makan saja sudah senang. Tapi kamu punya cita cita yang tinggi untuk kuliah,” ia masih menangis.

“Mintuo (panggilan untuk mertua perempuan) juga senang Nter, mudah-mudahan Anda sama Abil juga bisa sekolah tinggi seperti kamu”, kata mertua ku sambil menangis.

“Insya Allah Mintuo, mohon doa Mintuo dan Adang supaya semuanya dilancarkan,”

“kami selalu berdoa yang terbaik untuk kamu Nter, mudah-mudahan cita-cita mu tercapai”, ucap Mak Dang sambil mengelap mukanya.

“Amiiiiin, mudah-mudahan Dang”.

Keadaan di rumah Mak Dang masih diselimuti dengan tangis haru. Pelan-pelan suasana itu berubah menjadi normal kembali karena anak Mak Dang yang paling kecil lagi bermain mobil-mobilan. Abil melindas tangan bapaknya dengan mobil-mobilan itu, Mak Dang pun berpura pura teriak kesakitan. Gelak tawa pun kembali terdengar.

Pukul 10 malam aku pulang ke rumah. Kemudian tidur.

Dua hari sebelum berangakat ke pulau Jawa, Mak Dang datang ke rumah. Dia berpesan supaya aku kuliah yang rajin, jaga kesehatan dan jangan sering merokok. Sebelum pergi dia meninggalkan uang 100 ribu. Tapi aku menolak. Namun dia tetap memaksa aku menerimanya.

Aku-pun berangkat ke Semarang. Mak Dang selalu menanyakan kabar ku lewat telfon. Dalam satu bulan dia selalu menelfon ku, dan menceritakan tentang perkembangan anaknya. Kalau aku pulang dari pulang Jawa, Mak Dang selalu mampir ke rumah untuk mengobrol dengan ku.

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini aku sampaikan bahwa aku telah belajar banyak dari Mak Dang dan bersyukur punya paman yang sangat baik. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan tidak pernah membuatnya lupa untuk membantu orang lain. Pendidikannya memang rendah, namun jiwanya mengalahkan beberapa orang yang berpendidikan tinggi. Mak Dang adalah contoh orang miskin yang kaya. Mak Dang adalah contoh orang bodoh yang pintar.

 

Iklan

Makna Kehilangan

Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Ternyata sudah 10 tahun saja Bapak pergi, ucapku.

Pertengahan tahun 2007 aku duduk di kelas 2 SMP. Aku adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara. Aku dibesarkan dari keluarga petani di Nagari (desa) Koto Gadang Guguak, Minangkabau.

Pada tulisan kali ini, aku hanya ingin menceritakan tentang Bapak untuk mengingat 10 tahun kepergiannya, dan sedikit perjalanan hidup ku.

Sehari-hari bapak bekerja sebagai petani dan beliau merupakan pemuka agama di kampung kami. Beliau adalah Imam di surau/mushalla mesjid usang. 1 Minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan, bapak terbaring sakit. Sungguh sebuah kesedihan untuk menyambut bulan yang penuh rahmat itu. Kesedihan tidak hanya meliputi keluarga kami, namun juga jamaahnya.

Bapak sakit karena jatuh ke lubang septingteng pada tahun 2005. Waktu itu rumah kami sedang direnovasi dan memasuki tahap pembuatan lubang septingteng. Sekitar pukul 02.00 wib pagi, bapak terbangun karena ingin buang air kecil. Beliau berjalan ke belakang rumah, tapi lupa ada galian septingteng disana. Bapak terjatuh kedalam lubang septiteng yang kedalamannya sekitar 10 meter.

Tidak ada yang tau kejadian itu sampai matahari terbit. Ibu baru sadar bapak tidak ada disampingnya sebelum adzan subuh berkumandang. Sontak,  ibu panik dan berteriak teriak mencari bapak. Bapak pingsan didalam lubang septingteng itu. pukul 05.30 pagi bapak baru berteriak memanggil ibu. Ibu masuk ke lubang itu dengan menggunakan tangga, dan menggendong bapak sampai keluar.

Akibat kejadian itu, bapak lumpuh. Beliau dirawat di Rumah Sakit Tentara Kota Solok. Bapak adalah tipikal orang yang tidak mau menyusahkan orang lain. Aku masih ingat, ketika hari ketiga beliau dirawat. Bapak sudah minta pulang kepada dokter. Bukan karena alasan kesehatanya sudah pulih. Tapi karena beliau sedih melihat tamu tamu yang datang menjenguknya. “Kita sedang puasa, kasihan sanak saudara yang datang kesini, mereka lelah, mengganggu waktu ibadah. Ongkos kesini mahal. Biar saya pulang saja”, ucap bapak. Bapak sampai ribut dengan dokter, karena dokter tidak mengizinkan bapak pulang. Tapi bapak tetap memaksa pulang. Akhirnya dokter menyerah, dan bapak diizinkan pulang.

Bapak kembali ke rumah. Setiap hari tamu dan jamaah bapak selau berdatangan untuk menjenguk beliau. Bapak terlihat sehat ketika berbincang dengan tamu yang juga merupakan teman-teman beliau. Berbicara lancar, nafsu makan normal, hanya saja kaki tidak bisa digerakkan. Sampai akhirnya, dua hari sebelum bapak meninggal, beliau berkata kepada salah seorang tetangga kami yang sedang duduk disebelahnya, kata bapak “saya akan pergi jauh”. Tetangga paham betul maksud pembicaraan bapak, bahwa sudah ada tanda tanda ajal akan menjemput. Ternyata benar firasat tetangga itu, Hari Minggu tanggal 30 September 2007 setelah shalat subuh, Bapak dipanggil oleh yang Maha Kuasa.

Pekikan tangis dan banjir air mata mengalir deras di kampung kami. Bapak pergi. Semua keluarga yang di rantau pulang untuk melihat prosesi pemakaman bapak. Cuaca dari pagi hari mendung, pada siang hari turun hujan. Menurut orang kampung, alam merasa sedih karena bapak pergi. Prosesi pemakaman baru selesai setelah shalat Ashar. Kami pulang.

Pada malamnya hari seperti adat di kampung kami melakukan pengajian hari pertama, berlanjut dengan mengaji hari kedua, mengaji hari ke ketiga, mengaji hari ke tujuh, mengaji hari ke sepuluh, duapuluh, tigapuluh , mengaji hari ke 40, sampai dengan mengaji hari ke seratus.

Sementara itu, Aku masih dalam keadaan terpuruk dan belum bisa menerima kepergian bapak waktu itu. Aku tidak percaya bahwa bapak sudah tiada. Aku masih sering berlari ke kamar beliau dan memanggil bapak untuk meminta uang jajan. Setiap kali masuk kamar bapak, aku hanya menemukan bayangan bapak yang sedang tidur. Tapi kesedihan perlahan lahan hilang, karena rutinitas sekolah yang aku jalani.

Setelah 3 bulan bapak pergi, ekonomi keluarga kami terpuruk. Ibu sudah tidak memiliki apa apa lagi untuk membiayai sekolah aku dan adik ku yang sedang duduk di kelas 5 SD. Ibu pasrah, dan tidak menemukan solusi untuk melanjutkan pendidikan ku. Sampai suatu saat aku sering tidak masuk sekolah karena tidak ada biaya untuk berangkat. Tapi Allah s.w.t Maha Penyayang. Allah mengetuk pintu hati kakak ku untuk menggunakan kendaraanya supaya aku bisa “mengojek” untuk biaya sekolah ku.

Mulai bulan Desember 2007, aku mengojek di Pasar Minggu Guguak setiap hari Minggu. Aktivitas mengojek aku lakukan sampai dengan aku tamat SMP. Penghasilan ku setiap hari Minggu tidak menentu, kadang 40 Ribu, kadang 50 ribu. Penghasilan itu aku bagi 3, untuk ibu, adik dan aku. Dengan uang itulah kami bisa makan dan aku bisa melanjutkan sekolah. Tidak peduli lauk apa yang dimasak oleh Ibu, yang penting kami bisa makan. Kadang kami hanya makan dengan garam, kecap bahkan pernah dengan nasi putih saja.Maaf air mata ku menetes ketika menulis ini. Sungguh kehidupan yang sangat sulit kala itu.

Pada hari libur panjang sekolah, misalnya kenaikin kelas, aku ikut dengan paman ku sebagai buruh proyek. Waktu itu aku ikut di Tabek (Kolam) Panjang. 2 Minggu aku bekerja sebagai buruh proyek disana sampai waktu sekolah datang lagi. Begitulah rutintas ku sampai tahun 2009.

Pada bulan Mei 2009, aku berhasil menyelesaikan pendidikan SMP. Sebuah kebahagian yang berujung dilema berat. Aku bahagia karena akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan SMP. Namun dilema datang karena ibu menyerah tidak mampu untuk membiayai aku jika ingin melanjutkan pendidikan SMA.

Aku tetap ingin bersekolah, tapi ibu tetap menolak. Sampai akhirnya aku datang kepada kakak bapak untuk membantu biaya pertama ku masuk SMA. Dan aku mendapatkan bantuannnya.

Kemudian masalah baru datang lagi. Sebuah ujian hidup yang berat. Kakak ku yang biasanya meminjami motor untuk mengojek, sudah tidak mau lagi meminjami motornya karena dia berkelahi dengan ibu. Aku tentu saja berpihak kepada ibu, karena memang kakak aku yang satu itu kurang ajar. Saya pukuli dia habis-habisan sampai pergi dari rumah.

Sekolah Menengah Atas sudah dimulai, tapi aku tidak punya penghasilan untuk berangkat ke sekolah. Setiap pagi ibu harus berjalan ke sana ke mari untuk mendapatkan pinjaman dari tetangga supaya aku dan adik ku bisa berangkat sekolah. Kadang ibu dipinjami oleh tetangga, kadang juga dimarahi karena meminjam uang terus. Uang yang ibu dapatkan dari tetangga hanya cukup untuk ongkos kami berangkat sekolah. Pulang sekolah aku menumpang motor dengan teman, sedangkan adik ku berjalan kaki. Ketika sampai di rumah, kadang kami juga tidak mendapatkan sepiring nasi untuk dimakan,  Karena ibu tidak punya uang dan tidak mendapatkan pekerjaan. Pada malam harinya kami baru makan. Entah kepada siapa lagi ibu meminjam uang untuk mendapatkan sepiring nasi itu, aku tidak tau. Walaupun hanya semangkuk sambal, kami tetap lahap menikmatinya. (Setelah aku kuliah, aku baru tau kalau ibu menangis dimarahi oleh tetangga karena meminjam uang itu.

Setelah satu bulan aku tidak mengojek, tetangga disebelah rumah ku meminjami motor untuk aku mengojek. Aku sangat senang karena bisa mendapatkan penghasilan lagi, melanjutkan sekolah dan bisa membantu ibu memenuhi kebutuhannya.

Aku kembali mengojek, ketika SMA penghasilan ku yang awalnya hanya 40 sampai 50 ribu meningkat menjadi 60 sampai 80 ribu. Setiap hari Minggu aku jalani dengan mengojek sampai dengan siang hari. Karena aku hanya dipinjami motor sampai pukul 2 siang. Karena orang yang punya motor juga butuh untuk mencari rumput untuk makan binatang ternaknya.

Ketika aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA semester kedua, paman ku yang dulunya membawa aku bekerja sebagai buruh proyek membeli satu sepeda motor. Aku tidak tau apakah niatnya untuk membantu ku mengojek, atau untuk keperluannya. Tapi memang sejak motor itu pertama diambil, aku dipinjami untuk mengojek setiap hari Minggu sampai dengan aku menyelesaikan pendidikan di SMA. Akhirnya aku mengojek menggunakan motor paman sampai aku menyelesaikan pendidikan SMA. (Lain waktu, aku akan membuat tulisan khusus tentang paman ku ini).\

Air mata ku terus berderai, aku harus menutup tulisan ini. Akhirnya, aku hany ingin mengatakan bahwa aku sangat rindu kepada Bapak, dan aku ingin mengabadikan tulisan ini sebagai bagian dari memoar hidup Yanter Bahri

 

Kekuatan Perempuan

Sebuah Review Film Where Do We Go Now

c4idoc8vuaaqavl

Hari ini Maarif Institute menggelar nonton film bareng dengan judul Where Do We Go Now.

Aku baru pertama kali datang ke Maarif Institute. Dikutip dari situs maarifinstitute.org bahwa Statuta pendirian MAARIF Institute for Culture and Humanity (2002) menyatakan komitmen dasar lembaga ini sebagai gerakan kebudayaan dalam konteks keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan. Tiga area ini merupakan hal pokok dan terpenting dalam perjalanan intelektualisme dan aktivisme Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Keberadaan MAARIF Institute merupakan bagian tidak terpisahkan dari jaringan gerakan Pembaruan Pemikiran Islam (PPI) yang ada di Indonesia dewasa ini. Gerakan pembaruan merupakan sebuah keniscayaan sekaligus tuntutan sejarah. Kompleksitas masalah kemanusiaan modern berikut isu-isu kontemporer yang mengikutinya seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, gender, dialog antar-agama dan peradaban serta sederet isu lainnya menuntut pemahaman dan penjelasan baru dari ajaran Islam.

Disadari pula bahwa program serta aktivitas MAARIF Institute tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan sosiologis persyarikatan Muhammadiyah, meskipun tidak ada hubungan structural dengan organisasi ini dan tanpa mengurangi komitmen untuk terus memperluas radius pergaulan lembaga. Muhammadiyah, menurut banyak kalangan, sering dianggap sebagai representasi gerakan modernis-moderat di Indonesia yang aktif mempromosikan pemikiran-pemikiran Islam, berdakwah, dan melakukan aksi-aksi sosial. Oleh karena itu, memperjuangkan arus pembaruan pemikiran Islam dalam konteks gerakan Muhammadiyah merupakan perhatian utama MAARIF Institute sebagai bagian dari upaya pencerahan sekaligus memperkuat elemen moderat (empowering moderates) di Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, aku akan mencoba mereview sedikit film tentang Where Do We Go Now.

Film yang berdurasi sekitar 1 jam 40 menit ini, memang menarik sekali untuk ditonton. Karena film ini bisa menjadi pelajaran ditengah situasi negara Indonesia saat ini. Konon kabarnya film ini berasal dari negara Lebanon.

Film ini menceritakan tentang kehidupan satu desa yang saling berdampingan antara orang Islam dan orang Kristen. Letak desanya cukup jauh dari keramaian ibu kota, akses masyarakat untuk informasi, transportasi sangat minim di desa tersebut. Jangankan untuk menonton tv, mendengarkan radio saja harus naik gunung turun gunung untuk mendapatkan sinyal radio.

Desa ini kecil, mungkin tidak sampai 100 Kartu Keluarga. Masyarakatnya menganut agama Islam dan Kristen. Sebuah Masjid dan Gereja terlihat berdiri berdampingan. Situasi di negara tersebut kala itu sedang mengalami konflik antar agama yang cukup miris. Korbannya tidak hanya luka-luka tapi juga meregang nyawa. Anak-anak dari desa tersebut sudah banyak yang jadi korban dari konflik agama ini.

Situasi konflik di negara tersebut, tentu saja berpengaruh ke desa. Namun menarik untuk dilihat bahwa, ketika situasi konflik desa tersebut malah menunjukkan kerukunannya dalam beragama.  Suatu waktu, ketika seorang pemuda sedang membetulkan mungkin itu kabel radio di gereja, pemuda tersebut terpeleset sehingga menyebabkan salib geraja itu patah. Pemuda itu panik. Namun, ketika umat Kristen sedang beribadah, pendeta geraja dalam pidatonya menyampaikan bahwa salib itu patah karena pintu gereja yang tidak ditutup sehingga ditiup oleh angin yang kencang yang mengakibatkan salib itu patah. Alasan yang sebenarnya tidak masuk akal. Tapi upaya itu berhasil untuk menenangkan umat Kristen sejenak supaya tidak menuduh umat Muslim yang melakukannya. Karena curiga mencurigai adalah hal yang tidak bisa ditolak dalam negara konflik, apalagi konfilk agama.

Dilain waktu, ketika itu di mesjid desa, keluar sekerumunan binatang seperti kambing, domba dari dalam masjid. Curiga mencurigai pun tidak bisa dielakkan. Dengan nada emosi, seorang pemeluk agama Islam langsung mengambil sebuah balok untuk memecahkan patung yang ada di depan gereja. Untungya pada waktu itu wanita tampil sebagai penengah untuk menenangkan orang Kristen dan Muslim yang sedang ribut ribut. Esok harinya, sang pemuka agama Islam juga mengeluarkan pidatonya demi mendinginkan suasana, dengan mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan kambing yang masuk kedalam mesjid. Kambing itu tertarik masuk karena mereka melihat karpet-karpet yang bagus dan ingin memakannya. Pidato itu juga berhasil menenangkan umat Muslim yang sedang marah kepada kelompok Kristen.

Pada hari itu juga, semua orang tua perempuan baik yang beragama Islam maupun beragama Kristen datang untuk membersihkan mesjid yang kotor, dan memperbaiki patung bunda maria yang sudah dihancurkan.

Kaum wanita sadar betul bahwa konflik agama ini tidak boleh berlanjut. Anak-anak mereka sudah menjadi korban yang kehilangan nyawa akibat konflik tersebut. ketika ada berita negatif di televisi, ibu-ibu selalu berusaha mengalihkan perhatian para lelaki dengan cara berbicara seenaknya dengan nada yang sangat tinggi supaya tidak mendengar berita tersebut. Kalau ada koran yang datang, ibu-ibu ini langsung membakarnya supaya laki-laki tidak tahu kehebohan yang sedang terjadi di Ibu Kota.

Namun ada saja yang menjadi pemicu konflik itu berlanjut. Suatu ketika  datang sekelompok laki-laki muslim ke kafe. Mereka datang dengan marah marah dan menuduh bahwa orang Kristen telah mencuri sendalnya. Padahal tidak ada bukti yang mengatakan bahwa sendal itu dicuri oleh orang Kristen. Pertengkaranpun tidak bisa dihindari. Perempuan pemilik cafe berteriak sambil menangis untuk menghentikan mereka yang sedang bertengkar.

“Sudah cukup, hentikan, tidak kah kalian malu melihat penderitan kami sekarang? Tidak puaskah kalian melihat kami yang selalu berpakaian serba hitam karena masih dalam suasana kesedihan? Sampai kapan kami akan mengenakan baju ini? Kami tidak ingin berpakaian ini terus, kami tidak ingin disulut kesedihan terus” teriak sang perempuan. Tidak lama kemudian, pemuda yang bertengkar di usir dari kafe tersebut.

Ketegaran perempuan ini, selalu terlihat ketika konflik akan dimulai. Mereka selalu mencari cara supaya konflik tidak berlanjut. Setiap ada konflik, ada saja akal perempuan hebat ini untuk mengatasinya.

Namun bencana tak dapat ditolak. Salah satu anak desa itu kembali menjadi korban akibat konflik yang sedang berlangsung di Kota, ia terbunuh akibat peluru yang menyasar ke kepalanya. Anaknya yang meninggal tadi, dimandikan, dibersihkan, lalu dibawa dan dimasukkan ke sebuah sumur untuk menyembunyikan identitasnya. Setiap kali temannya datang, perempuan itu selalu menyembunyikan informasi tentang anaknya sudah meninggal.

Seorang anaknya yang laki laki datang dengan marah marah. Dia mencari senjata untuk membunuh mereka yang muslim. Dia ingin masuk ke kamar adiknya yang sudah tiada, tapi tidak diizinkan oleh ibunya. Dia memaksa, sampai membuat ibunya tersungkur ke lantai dan mendapatkan kunci kamar adiknya. Dia masuk, ternyata nampak bahwa kamar sudah rapi dan bersih, adik sudah tiada.

Konflik semakin memanas. Para perempuan tangguh ini semakin bingung mencari ide untuk menenagkan situasi. Para ibu-ibu dengan sejumlah “artis” bergotong royong untuk membuat kue dan minuman yang sudah dicampurkan obat tidur. Siangnya, para pemuka agama Islam, dan Kristen memberikan seruan supaya orang yang beragama Kristen, dan beragama Islam datang ke kafe tempat biasa minum.

Acara dimulai pada sore hari, makanan dan minuman yang sudah dicampurkan obat tidur tadi dibagikan. Para artis dengan pakaian yang seksi keluar dengan menari nari dihadapan laki laki yang sedang berkumpul itu. Ketika mereka sudah terlelap tidur. Kelompok ibu-ibu ini pergi ke sebuah bukit. Mereka mencari tempat penyimpanan senjata para lelaki itu. Sangat banyak senjata dan berbagai jenis yang didapatkan ibu-ibu itu. Mereka memindahkan tempat penyimpanan senjata itu ke sebuah lubang yang jauh dari tempat semula. Sehingga para lelaki ini tidak mudah untuk mendapatkan senjata ketika konflik kembali terjadi.

Esoknya harinya. Mereka berpura-pura berganti identitas. Mereka yang beragama Krsiten menjadi beragama Islam, begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah supaya para laki-laki ini sadar bahwa bagaimana akan memulai perang jika yang berbeda dengan kita itu adalah orang yang kita sayangi? Yaitu Ibu.

Akhirnya, kehidupan desa tersebut kembali berjalan damai. Anak yang sudah dimasukkan ke dalam sumur tadi, ditarik kembali untuk dimakamkan. Dengan pakaian serba hitam, Muslim dan Non Muslim membuat satu barisan untuk mengantarkan sang anak ke tempat peristirahatan terakhir.

 

Jawaban Dari Keresahan

Entah berteriak atau histeris menikmati kebahagiaan hari ini, aku juga bingung untuk memilihnya. Yang jelas, kehadiranmu dalam dua hari ini telah membuat ku lebih bersemangat daripada hari biasanya.

Kita memang jarang berkomunikasi. Aku hanya memperhatikan mu dari media sosial. Tapi aku senang melihatmu hari ini. Kamu telah tumbuh dewasa. Cara berfikirmu juga lebih matang dari yang aku bayangkan.

Kamu yang aku kenal dulu, ketika masih polos, dan lucu. Ternyata telah berubah menjadi sosok yang kuat, tegar dan suka bercerita.

Kelebihanmu adalah tidak mudah tersinggung terhadap penilaian orang lain merupakan wujud dari kekuatanmu. Memang dari dulu, berbagai nada sinis tentangmu telah aku dengar. Tapi aku tidak peduli, aku hanya bergumam “ah itu pendapat kalian saja”. Bagaimanapun mereka menceritakan tentang keburukan mu, hati ku tetap menolak.

Kamu yang ramah, sopan dan suka tersenyum merupakan nilai lebih dari aku sendiri. Sifat itulah yang membuat aku susah untuk tidak menulis tentangmu.

Ini merupakan tulisan kedua setelah kunjunganmu ke rumah ku. Silaturrahmi yang berlangsung singkat waktu itu, telah membekas dalam ingatan ini. Pada tulisan kali ini, aku tidak ingin melakukan gombalan-gombalan yang aku sendiri-pun tidak bisa melakukannya. Aku hanya ingin menulis tentang harapan dari jawaban jawaban keresahan ku selama ini. Kamu telah memberikan secercah harapan pada keresahanku beberapa tahun ke belakang.

Berawal dari cerita tentang penelitian yang akan kamu lakukan, karena kamu sudah hampir memasuki semester akhir kuliah. Aku mengusulkan beberapa ide untuk penelitian mu.

Pertama, aku mengusulkan penelitian tentang “pengaruh jenis buku perpustakaan terhadap minat baca siswa di sekolah”. Keresahan ini bermula dari postingan postingan yang dilakukan oleh pelajar di kampung yang hanya berisi kegalauan-kegaluan dan keluhan keluhan tentang hidup. Diantara mereka sangat jarang menuliskan tentang apa yang mereka dapatkan, terutama tentang buku yang mereka pelajari. Aku juga mengalami hal ini ketika masa sekolah dulu. Kemalasan untuk berkunjung ke perustakaan sekolah adalah hal yang bisa ditertawakan bersama sama. Mereka yang rajin ke perpustakaan mendapatkan bully-bullyan yang memuakkan. Jenis buku yang tidak menarik, juga berpengaruh terhadap rangsangan minat kami mengunjungi perpustakaan. Renungan ini aku lakukan ketika aku mulai bersentuhan dengan buku di masa kuliah dulu. Aku sadar dan merasakan manfaatnya sendiri, bahwa membaca adalah proses yang tidak mudah dilakukan. Apalagi untuk seorang lelaki yang pernah kena bullyan karena mengunjungi perpustakaan di masa sekolah. Memulainya butuh niat yang sangat besar, dan kemauan yang sangat keras. Dipinjamkan buku, kurang menimbulkan semangat untuk menyelesaikannya. Tapi memiliki buku sendiri, lebih cepat untuk mendorong menyelesaikan satu buku. Setelah terbiasa membaca, aku merasakan bahwa kehausan akan berbagai jenis buku terus meningkat. Bahkan, aku juga baru menyadari, walaupun sudah diajari semenjak kecil. Bahwa perintah membaca adalah perintah yang pertama sekali diperintahkan kepad Nabi Muhammad SAW. Dalam satu surat dalam Al-Qur’an pun juga ada ada perintah membaca ini. Iqra yang artinya bacalah. Hanya sesederhana itu rangsangan untuk membaca.

Kemudian usulan yang kedua,aku mengusulkan tentang tingkat literasi masyarakat di suatu “nagari” atau kelurahan, aku tidak memiliki judul yang baik untuk masalah ini. Namun aku hanya tau bahwa permasalahan literasi adalah permasalahan yang harus dianggap serius oleh negara ini. Menyebut negara, rasanya terlalu besar konteksnya. Cukuplah aku bicarakan “nagari” atau kelurahan saja. Dalam perjalanan beberapa tahun ini, hidup di rantau, kembali ke kampung memang kegiatan wajib dilakukan oleh si perantau. Semenjak mengenal buku, aku selalu memperhatikan tentang budaya membaca masyarakat sekitar. Suatu waktu, aku berdiri di sebuah tempat foto copy sambil menunggu angkot pulang. Kebetulan di tempat foto copy itu, berjeran koran-koran ternama di Sumatera Barat. Koran itu dijual, koran terbaru pula. Mulai dari Koran Singgalang, Padang Ekspress, dan berbagai koran lainnya. Cukup lama aku berdiri disitu, hanya untuk memperhatikan koran yang dibaca oleh mereka yang sedang bersantai santai di tempat foto copy. Ternyata, koran itu hanya jadi gantungan penghias di tempat foto copy. Hanya 1 atau 2 orang yang membaca koran tersebut. Dikatakan membaca, hanya membaca judulnya saja, tidak disertai dengan isi. Apa yang bisa didapat dari judul koran? Memfilternya dan mencari tahu isi tentang koran tersebut baru bisa mendapatkan informasi yang jelas. Tapi itu, tidak mereka lakukan. Aku hanya bergumam “kasian betul koran ini, kalau hujan, kena hujan, kalau panas, hanya jadi gantungan”

Usul ku yang dua itu kamu terima dengan baik. Respon dengan “udah di screen shoot usulan abang, nanti dipindahkan kedalam buku catatan”, langsung membuat ku senang bukan kepalang.

Akhirnya, kamu telah membantu menjawab keresehanku. Semoga apa yang telah kita diskusikan dua hari ini, berjalan dengan lancar. Doa ku semoga usulan ku menjadi usulan yang diterima oleh dosen pembimbing ketika kamu mengajukan proposal penelitian nanti.

Datanglah kembali untuk berdiskusi. Aku akan sangat senang jika kamu mau merepotkan aku.

SEMANGAT BAPAK TUNA NETRA

Panas terik Ibu Kota menemani saya melanjutkan perjalanan menuju tempat bekerja. Seperti biasa, pemandangan keegoisan orang-orang yang berkendaraan  menerobos sana sini, tidak peduli kendaraan orang lain yang akan lecet bahkan sampai rusak adalah hal yang lumrah di Ibu Kota ini.

Namun ditengah kebiasaan menerobos sana sini itu ada aturan yang harus mereka patuhi. Lampu merah merupakan kesempatan mereka untuk menahan keegoisannya. Mau tidak mau, mereka harus berhenti dan mematuhi aturan lampu 3 warna itu.

Seraya menunggu giliran untuk melanjutkan perjalanan, ada saja pemandangan yang menarik untuk diperhatikan. Orang yang sedang mengupil, memukul-mukul paha sambil bernyanyi-nyanyi, wanita dengan pakaian seksi, pakaian dalam orang lain yang keliatan belakangnya, pedagang asongan yang menjajakan daganganya, dan masih banyak pemandangan lain yang aneh, lucu dan juga memprihatinkan.

Pemandangan saya teralih kepada seorang bapak bapak pedagang asongan di perempatan jalan Kelapa Gading dari arah Rawamangun. Cukup ramai lalu lintas siang ini, lampu merah yang ditunggu menjadi hijau juga cukup lama. Ada seorang bapak-bapak menjajakan aqua botol dagangannya kepada pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Kelapa Gading. Ketika sampai disana, saya melihat dari belakang beliau menabrak sebuah motor yang sedang berhenti. Karena penasaran, saya tampar halus pundak bapak itu dari belakang sambil membeli aqua botol yang beliau jajakan. Saya kaget, karena bapak itu tuna netra atau tidak bisa melihat.

Ketika saya bayar aqua yang saya beli. Bapak itu bertanya, “ini uang berapa?”. 5 ribu Pak

Tapi beliau seolah tidak percaya dan bertanya lagi, “jangan bohong kamu, ini uang berapa? tanya beliau lagi. 5 ribu Pak.

Kemudian beliau bertanya lagi untuk meyakinkan, “ini bukan uang 10 ribu kan?”. bantah beliau. Tidak pak, itu uang 5 ribu”.

Harga aqua botol yang beliau jual memang seharga 5 ribu rupiah. Saya memang membayar dengan uang 5 ribu.

Suasana di lampu merah yang cukup lama itu menjadi ramai karena perhatian orang orang berpindah kepada saya dan bapak penjual aqua itu. 5 detik setelah membayar lampu sudah hijau, saya kembali melanjutkan perjalanan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, saya melihat masih ada 3 kardus lagi aqua botol yang akan beliau dagangkan.

Diperjalanan saya jadi memikirkan bapak yang menjual aqua tadi. Bapak itu memang tidak mau dikasihani, karena nada suara yang beliau ucapkan kepada saya waktu mengatakan “ini bukan uang 10 ribu kan?” adalah suara yang jujur untuk meyakinkan bahwa beliau memang tidak ingin dikasihani. Sepertinya, selama beliau berdagang, dengan segala kekurangan yang beliau miliki, dan kelebihan yang melekat pada diri Bapak itu. Banyak orang-orang yang membeli dagangan beliau karena kasihan. Perasaan kasihan selalu menimbullkan rasa empati dalam bentuk membayar lebih kepada bapak itu.

Adalah sebuah sikap yang wajar ketika melihat seseorang yang kekurangan tapi masih mau berusaha dan kita ingin memberi lebih. Namun dibalik itu, selalu ada nilai yang didapatkan oleh para pemberi empati ini.

Kejadian hari ini telah memberikan pelajaran bahwa kekurangan kesempurnaan fisik tidak melulu seseorang itu layak dikasihani. Mereka tampak lebih tegar, kuat dan mau berusaha daripada orang-orang yang diberikan kesempurnaan fisik.

Hikmah dari semua itu adalah bersyukur karena kita masih diberi kelebihan daripada bapak pedagang asongan tadi. Dan malu karena masih saja ada orang-orang yang merengek tidak mendapatkan pekerjaan, atau mengeluh karena pekerjaan tidak selesai, kepada Bapak yang kekurangan kesempurnaan fisik pedagang asongan perempatan jalan Kelapa Gading itu.

dan Akhirnya, Jakarta selalu memberikan pelajaran kepada mereka yang ingin mencobanya. Dibalik kekejaman Ibu Kota, masih ada nilai baik yang bisa didapatkan di Kota ini. Bapak asongan tuna netra adalah salah satu contoh dari orang kuat yang memiliki kekurangan kesempurnaan fisik. Masih banyak orang-orang tangguh dibelakang sana yang ceritanya mungkin tidak jauh berbeda dari bapak pedagan asongan di perempatan kelapa gading.

 

 

 

PERKENALAN DENGAN WIJHI THUKUL

Sebuah review film istirahatlah kata-kata
Ditulis oleh, Yanter Bahri

19 Januari 2017, film Istirahatlah Kata-Kata resmi tayang dibeberapa bioskop di Indonesia. Film ini menceritakan seorang tokoh yang selama ini hilang dan sampai sekarang tidak diketahui apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Wijhi Thukul namanya.

Sore itu, saya langsung bergegas menuju XXI Taman Ismail Marzuki Jakarta, untuk membeli tiket film istirahatlah kata-kata. Sekitar pukul setengah lima sore saya sampai disana. Rencananya saya ingin menonton film istirahatlah kata-kata pada jadwal tayang malam hari. Namun, sialnya saya terlambat. Ketika saya datang dan belum sempat bertanya apakah tiket film istirahatlah kata-kata masih ada atau tidak, wanita yang melayani penjulan tiket di XXI itu langsung mengatakan “jadwal film istirahatlah kata kata sudah penuh sampai malem”.

Saya pulang dengan menggurutu karena tidak dapat tiket. Namun senang karena antusias masyarakat untuk menonton film istirahatlah kata-kata sangat tinggi.

Tingginya antusias tersebut mungkin disebabkan oleh, Pertama, keingintahuan publik untuk mengenal Wijhi Thukul. Kedua, sebagai nostalgia bagi mereka yang dulu ikut berjuang bersama Wijhi Thukul. Ketiga, mereka memang pengaggum Wijhi Thukul. dan terakhir, sebagai bentuk solidaritas #MenolakLupa bagi para aktivis HAM yang masih memperjuangkan orang orang yang hilang pada masa orde baru.

Saya termasuk pada golongan pertama. Wijhi Thukul adalah orang baru bagi saya. Perkenalan dengan Wijhi Thukul baru dimulai beberapa tahun yang lalu melalui media sosial. Saya tidak punya apapun tentang Wijhi Thukul. Baik itu karya-karyanya atau apapunlah cara orang untuk menghargai jasa Wijhi Thukul. Hanya beberapa love tweet untuk belajar dari artikel tentang Wijhi Thukul.

Wijhi Thukul dikenal sebagai aktivis pro demokrasi. Perjuangannya melawan pemerintah Orde Baru waktu itu yang sangat otoriter, dituangkannya dalam bentuk puisi-puisi yang memanaskan kuping pemerintah yang sedang berkuasa, namun juga membangkitkan semangat orang-orang yang sedang ditindas oleh orde baru. Wijhi Thukul dikenal juga dengan “pengamen puisi”. Saya tidak tahu kenapa Wijhi Thukul diberi gelar seperti itu. Menurut saya sendiri, selama pelariannya dalam kejaran pemerintah Orde Baru, Wijhi Thukul sering mengamen di bis atau pun angkot dengan membacakan puisi. Puisi-puisi Wijhi Thukul selalu berkaitan dengan kehidupan rakyat kecil. kata-kata yang dikeluarkannya juga begitu tajam untuk menyindir pemerintah Orde Baru.

Kembali lagi ke Film.

Setelah tidak mendapatkan tiket tanggal 19 Januari, besoknya saya kembali lagi ke XXI Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kali ini saya datang lebih cepat, pukul setengah tiga saya sudah sampai. Kemudian langsung beli tiket, dan mendapatkan jadwal tayang jam 14.50 wib.

Saya menonton film ini sendirian, dapat kursi nomor 3 dari depan, kanan kiri saya tidak ada orang. Hanya saya. Mungkin memang sepi karena masih jam kerja. Pukul stengah lima sore saya keluar dari ruang bioskop.

Film Istirahatlah Kata Kata mungkin berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit.(Mohon koreksi jika saya salah)

Selama menonton fim ini. Ada tiga kejadian yang mengusik jiwa saya. Pertama, ketika Wijhi Thukul dan Thomas membeli arak, kemudian dihentikan oleh seorang aparat (mungkin) gila. Kedua, ketakutan Wijhi Thukul waktu memotong rambut ketika ditanya oleh seorang tentara yang kebetulan memotong rambut juga. dan Ketiga, kemarahan Si Pon yang dituduh perempuan lonte oleh salah satu tetangganya karena masuk hotel untuk bertemu Wijhi Thukul.

Saya ingin membahas tiga kejadian diatas.

Kejadian pertama, ketakutan sebagai buronan politik adalah ketakutan yang sulit dibayangkan. Perasaan was-was selalu menghantui orang yang mengalaminya. Curiga mencurigai adalah sifat yang wajar ketika menjadi buronan politik. Tidur tidak nyenyak karena takut ditangkap ketika terlelap. Kanan kiri depan beakang selalu menjadi perhatian untuk melihat keadaan aman ketika berjalan.

Kejadian kedua, aparat adalah orang yang mengejar Wijhi Thuku waktu itu. Bertemu disebuah tempat pemotongan rambut adalah peristiwa yang tidak bisa dielakkan. Ketakutan makin terlihat ketika Wijhi Thukul selalu menunduk ketika ditanya oleh aparat. Kecurigaan aparat mulai terlihat ketika temannya Wijhi Thukul adalah orang Medan. “Luas juga pergaulan orang ini. Satu orang Medan, satu orang Jawa. Kenal dimana mereka?” kalau tidak salah itulah yang diungkapkan oleh aparat ketika bertanya asal Wijhi Thukul.

Muncul pertanyaan saya, apa yang terjadi setelah tentara curiga terhadap mereka? apakah Wijhi Thukul mulai dikejar oleh aparat yang mencurigainya waktu itu?

Dan ketiga, Si Pon dituduh lonte oleh tetangga dekat rumahnya karena melihat dia masuk ke sebuah hotel. Tuduhan-tuduhan seperti ini memang menyakitkan. Kemarahan si Pon adalah sikap wajar dari dari buruk sangka yang dikeluarkan oleh tetangganya. Tidak ada yang bisa menerima perkataan tersebut dengan cara apapun.

Si Pon memang istri yang tabah dan setia. Ditinggalkan suami karena menjadi buronan politik, diawasi oleh intel yang mencari suaminya namun tetap diam ketika ditanya oleh intel-intel itu. Anaknya yang perempuan-pun begitu. Tidak pernah berkata-kata tentang kemana Ayah-nya pergi.

Sebelum menonton film Istirahatlah Kata-Kata, saya membayangkan kalau film ini akan menunjukkan kemahiran Wijhi Thukul berpuisi. Peristiwa-peristiwa yang membuat Wijhi Thukul menulis puisi yang begitu tajam.  Tapi saya tidak menemukan itu. Puisi Istirahatlah Kata-Kata pun tidak ditampilkan secara gamblang dalam film ini. Hanya terdengar sajak sajak diikuti oleh film yang terus berjalan.

Namun dibalik kritikan singkat itu. Saya sangat suka film ini. Film Istirahatlah Kata-kata sangat diperlukan untuk mengenal tokoh-tokoh yang pernah berjuang demi negara ini. Film seperti Istirahatlah kata-kata adalah sarana edukasi yang baik bagi kami yang tidak merasakan kekejaman orde baru. Mudah-mudahan setelah Istirahatlah Kata-Kata ada lagi film yang menceritakan Wijhi Thukul

Terima kasih.