JANGAN REMEHKAN PEREMPUAN

Sebuah Review Film Where Do We Go Now

c4idoc8vuaaqavl

Hari ini Maarif Institute menggelar nonton film bareng dengan judul Where Do We Go Now.

Aku baru pertama kali datang ke Maarif Institute. Dikutip dari situs maarifinstitute.org bahwa Statuta pendirian MAARIF Institute for Culture and Humanity (2002) menyatakan komitmen dasar lembaga ini sebagai gerakan kebudayaan dalam konteks keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan. Tiga area ini merupakan hal pokok dan terpenting dalam perjalanan intelektualisme dan aktivisme Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Keberadaan MAARIF Institute merupakan bagian tidak terpisahkan dari jaringan gerakan Pembaruan Pemikiran Islam (PPI) yang ada di Indonesia dewasa ini. Gerakan pembaruan merupakan sebuah keniscayaan sekaligus tuntutan sejarah. Kompleksitas masalah kemanusiaan modern berikut isu-isu kontemporer yang mengikutinya seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, gender, dialog antar-agama dan peradaban serta sederet isu lainnya menuntut pemahaman dan penjelasan baru dari ajaran Islam.

Disadari pula bahwa program serta aktivitas MAARIF Institute tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan sosiologis persyarikatan Muhammadiyah, meskipun tidak ada hubungan structural dengan organisasi ini dan tanpa mengurangi komitmen untuk terus memperluas radius pergaulan lembaga. Muhammadiyah, menurut banyak kalangan, sering dianggap sebagai representasi gerakan modernis-moderat di Indonesia yang aktif mempromosikan pemikiran-pemikiran Islam, berdakwah, dan melakukan aksi-aksi sosial. Oleh karena itu, memperjuangkan arus pembaruan pemikiran Islam dalam konteks gerakan Muhammadiyah merupakan perhatian utama MAARIF Institute sebagai bagian dari upaya pencerahan sekaligus memperkuat elemen moderat (empowering moderates) di Indonesia.

 

Pada kesempatan kali ini, aku akan mencoba mereview sedikit film tentang Where Do We Go Now. Aku tidak akan menyebutkan nama tokoh-tokoh yang seperti biasanya dilakukan oleh orang yang meriew film. Aku hanya bercerita tentang nilai yang aku dapatkan dari film Where Do We Go Now.

Film yang berdurasi sekitar 1 jam 40 menit ini, memang menarik sekali untuk ditonton. Karena film ini bisa menjadi pelajaran ditengah situasi negara Indonesia saat ini. Konon kbarnya film ini berasal dari negara Lebanon.

Pada awal film Where Do We Go Now kita akan melihat sekelompok perempuan yang sedang menari dan bernyanyi di tengah jalan dengan menggunakan pakaian serba hitam. Film ini menceritakan tentang kehidupan satu desa yang saling berdampingan antara orang Islam dan orang Kristen. Desa ini sangat lokasinya sangat terpelosok. Dikatakan terpelosok, karena terlihat bahwa akses masyarakat untuk informasi, transportasi, dan makanan sangat jauh dari desa tersebut. Jangankan untuk menonton tivi, mendengarkan radio saja harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk mendapatkan sinyal radio. Selain itu, untuk memperoleh makanan saja, dua orang pemuda harus berjalan dari subuh ke kota untuk membeli persediaan di desa. Begitu jauhnya desa ini dari keramaian.

Desa ini sangat kecil, mungkin tidak sampai 100 Kartu Keluarga. Masyarakatnya menganut agama Islam dan Kristen. Sebuah Masjid dan Gereja terlihat berdiri berdampingan. Situasi di negara tersebut kala itu, sedang mengalami konflik antar agama yang sangat kejam. Korbannya tidak hanya luka-luka tapi juga meregang nyawa. Anak-anak dari desa tersebut sudah banyak yang jadi korban dari konflik agama ini.

Situasi konflik di negara tersebut, tentu saja berpengaruh ke desa. Namun menarik untuk dilihat bahwa, ketika situasi saat konflik besar, desa tersebut malah menunjukkan kerukunannya dalam beragama. Namun tidak bisa dipungkiri, konflik semacam ini apalagi di negara yang sedang berkonflik pasti ada dampaknya. Suatu kali, seorang pemuda sedang membenarkan mungkin itu kabel radio di gereja, pemuda tersebut terpeleset sehingga menyebabkan salib geraja itu patah. Dalam sebuah pidatonya untuk menenangkan umat Krsiten, bahwa salib tersebut patah karena pintu gereja yang tidak ditutup sehingga ditiup oleh angin yang kencang yang mengakibatkan salib itu patah. Alasan yang sebenarnya tidak masuk akal. Tapi upaya itu berhasil untuk menenangkan umat Kristen sejenak supaya tidak menuduh umat Muslim yang melakukannya. Karena curiga mencurigai adalah hal yang tidak bisa ditolak dalam negara konflik, apalagi konfilk agama.

Dilain waktu, ketika itu di mesjid desa, keluar sekerumunan binatang seperti kambing, domba dari dalam masjid. Curiga mencurigai pun tidak bisa dielakkan. Dengan nada emosi, seorang pemeluk agama muslim langsung mengambil sebuah balok untuk memecahkan patung bunda maria yang ada di depan gereja. Untungya pada waktu itu, wanita tampil sebagai penengah untuk menenangkan orang Kristen dan Muslim yang sedang ribut ribut. Esok harinya, sang pemuka agama Islam juga mengeluarkan pidatonya demi mendinginkan suasana, dengan mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan kambing yang masuk kedalam mesjid. Kambing itu tertarik masuk karena mereka melihat karpet-karpet yang bagus dan ingin memakannya. Pidato itu juga berhasil menenangkan umat Muslim yang sedang marah kepada kelompok Kristen.

Pada hari itu juga, semua orang tua perempuan baik yang beragama Islam maupun beragama Kristen datang untuk membersihkan mesjid yang kotor, dan memperbaiki patung bunda maria yang sudah dihancurkan.

Mulai dari sini, aku akan memfokuskan untuk membahas bahwa perempuan itu tidak bisa diremehkan.

Terlihat sekali bahwa, para ibu ini tanpa memandang identitas apalagi agama, sadar betul bahwa konflik agama ini tidak boleh berlanjut. Anak-anak mereka sudah menjadi korban yang kehilangan nyawa akibat konflik tersebut. ketika ada berita di tivi, ibu-ibu selalu berusaha mengalihkan perhatian para lelaki dengan cara berbicara yang seenaknya dengan nada yang sangat tinggi supaya tidak mendengar berita tersebut. Kalau ada koran yang datang, ibu-ibu ini langsung membakarnya supaya laki-laki tidak tahu kehebohan yang sedang terjadi di Ibu Kota. Tapi situasi semakin memanas di desa tersebut. Suatu waktu, disebuah cafe. Datang rombongan laki-laki muslim yang tidak memakai sendal tapi meringkih kesakitan karena panasnya kerikil dan batu batu yang menancap ke kaki mereka. Mereka datang dengan marah marah dan menuduh bahwa orang Kristen telah mencuri sendalnya. Padahal tidak ada bukti yang mengatakan bahwa sendal itu dicuri oleh orang Kristen. Pertengkaran, baku pukulpun tidak bisa dielakkan. Perempuan pemilik cafe berteriak untuk menghentikan mereka yang sedang bertengkar.

“Sudah cukup, hentikan, tidak kah kalian malu melihat penderitan kami sekarang? Tidak puaskah kalian melihat kami yang selalu berpakaian serba hitam karena masih dalam suasana kesedihan? Sampai kapan kami akan mengenakan baju ini? Kami tidak ingin berpakaian ini terus, kami tidak ingin disulut kesedihan terus” teriak sang perempuan. Tidak lama kemudian, pemuda yang bertengkar di usir dari kafe tersebut.

Ketegaran perempuan ini, selalu terlihat ketika konflik akan dimulai. Mereka selalu mencari cara supaya konflik tidak berlanjut. Setiap ada konflik, ada saja akal perempuan hebat ini untuk mengatasinya.

Namun malang tidak dapat ditolak. Seorang pria tampan, kembali menjadi korban akibat konflik yang sedang berlangsung di Kota. Anak seorang perempuan yang selalu menjadi jalan keluar untuk mengatasi konflik, terbunuh akibat peluru yang menyasar ke kepalanya.

Anaknya yang meninggal tadi, dimandikan, dibersihkan, lalu dibawa dan dimasukkan ke sebuah sumur untuk menyembunyikan identitasnya. Dia mengatakan bahwa anaknya sedang sakit gondok, tidak bisa ditemui, nanti penyakitnya menular.

Itulah alasan yang disampaikan kepada teman-temannya. Namun, sepandai-pandai tupai melompat, toh akhirnya akan jatuh juga. Seorang anaknya yang laki laki datang dengan marah marah. Dia mencari senjata untuk membunuh mereka yang muslim. Dia ingin masuk ke kamar adiknya yang sudah tiada, tapi tidak diizinkan oleh ibunya. Dia memaksa, sampai membuat ibunya tersungkur ke lantai dan mendapatkan kunci kamar adiknya. Dia masuk, ternyata nampak bahwa kamar sudah rapi dan bersih, adik sudah tiada.

Sang kakak semakin emosi, tanpa pikir panjang ibunya menondongkan senjata kepada anaknya supaya tidak balas dendam terhadap kematian adiknya. Tapi anaknya tetap keras hati untuk  balas dendam. Doooor, sebuah peluru melekat di kaki anaknya tadi.

Niat ibunya sangat mulia. Dia tidak ingin lagi kehilangan anaknya karena konflik yang sedang berlangsung. Cukup adiknya yang terakhir menjadi korban, karena sebelum saudaranya yang pertama sudah menjadi korban juga.

Konflik semakin menjadi-jadi. Para perempuan tangguh ini semakin bingung mencari ide untuk memenangkan suasana. Suatu ketika, dapatlah ide yang cemerlang untuk menenangkan mereka. Para ibu-ibu ini dengan sejumlah “artis” bergotong royong untuk membuat kue dan minuman yang sudah dicampurkan obat tidur. Siangnya, para pemuka agama Islam, dan Kristen memberikan seruan supaya orang yang beragama Kristen, dan beragama Islam datang ke kafe tempat biasa minum.

Acara dimulai pada sore hari, makanan dan minuman yang sudah dicampurkan obat tidur itu dibagikan. Para artis dengan pakaian yang seksi keluar dengan menari nari dihadapan laki laki yang sedang berkumpul itu. Ketika mereka sudah terlelap tidur. Kelompok ibu-ibu ini pergi ke sebuah bukit. Mereka mencari tempat penyimpanan senjata para lelaki itu. Sangat banyak senjata dan berbagai jenis yang didapatkan ibu-ibu itu. Mereka memindahkan tempat penyimpanan senjata itu ke sebuah lubang yang jauh dari tempat semula. Sehingga para lelaki ini tidak mudah untuk mendapatkan senjata ketika konflik kembali terjadi.

Esoknya harinya, para perempuan kuat ini mengeluarkan sebuah ide yang sungguh luar biasa jeniusnya. Mereka berpura-pura dari ibu yang awalnya beragama Krsiten, berubah eragama Islam, begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah supaya para laki-laki ini sadar bahwa bagaimana akan memulai perang jika yang berbeda dengan kita itu adalah orang yang kita sayangi? Yaitu Ibu.

Akhirnya, kehidupan desa tersebut kembali berjalan damai. Anak yang sudah dimasukkan ke dalam sumur tadi, ditarik kembali untuk dimakamkan. Dengan pakaian serba hitam, Muslim dan Non Muslim membuat satu barisan untuk mengantarkan sang anak ke tempat peristirahatan terakhir.

Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah, Pertama bahwa konflik beragama itu sangat fatal akibatnya.Renggutan nyawa tidak bisa dielakkan dalam konflik semacam ini.

Kedua, manusia pada hakikatnya sama, sama-sama ciptaan Tuhan. Ketika laki-laki merasa paling pintar, paling jago, paling maju daripada perempuan. Faktanya tidak seperti itu, perempuan dalam film Where Do We Go Now ini telah menunjukkan bahwa perempuan kerjanya tidak hanya didapur, mengurusi rumah dan sebagainya yang dianggap gampang oleh kaum lelaki. Coba saja bersih rumah, ngepel, cuci piring, masak sendiri kalau bisa? belum tentu semua laki-laki bisa melakukannya. Tapi perempuan lebih baik dari itu. Pekerjaan rumah tangga yang sehari-hari tetap bisa mereka selesaikan. Bahkan juga mereka mampu untuk tenang, menyembunyikan kesedihan, mencarikan solusi untuk masalah sebesar konflik keyakinan. Sementara para lelaki hanya menunjukkan kebringasan dengan cara memukul, bahkan membunuh. Tanpa ada solusi yang baik untuk menyelesaikan konflik.

Ketiga, ketika lelaki menganggap perempuan itu lemah, sebaiknya bercermin dulu pada film ini. Sebaliknya, ketika perempuan itu merasa dirinya lemah, sebaiknya bangkit dan tunjukkan bahwa kaum perempuan juga tidak kalah hebat dari laki-laki.

 

Jawaban Dari Keresahan

Entah berteriak atau histeris menikmati kebahagiaan hari ini, aku juga bingung untuk memilihnya. Yang jelas, kehadiranmu dalam dua hari ini telah membuat ku lebih bersemangat daripada hari biasanya.

Kita memang jarang berkomunikasi. Aku hanya memperhatikan mu dari media sosial. Tapi aku senang melihatmu hari ini. Kamu telah tumbuh dewasa. Cara berfikirmu juga lebih matang dari yang aku bayangkan.

Kamu yang aku kenal dulu, ketika masih polos, dan lucu. Ternyata telah berubah menjadi sosok yang kuat, tegar dan suka bercerita.

Kelebihanmu adalah tidak mudah tersinggung terhadap penilaian orang lain merupakan wujud dari kekuatanmu. Memang dari dulu, berbagai nada sinis tentangmu telah aku dengar. Tapi aku tidak peduli, aku hanya bergumam “ah itu pendapat kalian saja”. Bagaimanapun mereka menceritakan tentang keburukan mu, hati ku tetap menolak.

Kamu yang ramah, sopan dan suka tersenyum merupakan nilai lebih dari aku sendiri. Sifat itulah yang membuat aku susah untuk tidak menulis tentangmu.

Ini merupakan tulisan kedua setelah kunjunganmu ke rumah ku. Silaturrahmi yang berlangsung singkat waktu itu, telah membekas dalam ingatan ini. Pada tulisan kali ini, aku tidak ingin melakukan gombalan-gombalan yang aku sendiri-pun tidak bisa melakukannya. Aku hanya ingin menulis tentang harapan dari jawaban jawaban keresahan ku selama ini. Kamu telah memberikan secercah harapan pada keresahanku beberapa tahun ke belakang.

Berawal dari cerita tentang penelitian yang akan kamu lakukan, karena kamu sudah hampir memasuki semester akhir kuliah. Aku mengusulkan beberapa ide untuk penelitian mu.

Pertama, aku mengusulkan penelitian tentang “pengaruh jenis buku perpustakaan terhadap minat baca siswa di sekolah”. Keresahan ini bermula dari postingan postingan yang dilakukan oleh pelajar di kampung yang hanya berisi kegalauan-kegaluan dan keluhan keluhan tentang hidup. Diantara mereka sangat jarang menuliskan tentang apa yang mereka dapatkan, terutama tentang buku yang mereka pelajari. Aku juga mengalami hal ini ketika masa sekolah dulu. Kemalasan untuk berkunjung ke perustakaan sekolah adalah hal yang bisa ditertawakan bersama sama. Mereka yang rajin ke perpustakaan mendapatkan bully-bullyan yang memuakkan. Jenis buku yang tidak menarik, juga berpengaruh terhadap rangsangan minat kami mengunjungi perpustakaan. Renungan ini aku lakukan ketika aku mulai bersentuhan dengan buku di masa kuliah dulu. Aku sadar dan merasakan manfaatnya sendiri, bahwa membaca adalah proses yang tidak mudah dilakukan. Apalagi untuk seorang lelaki yang pernah kena bullyan karena mengunjungi perpustakaan di masa sekolah. Memulainya butuh niat yang sangat besar, dan kemauan yang sangat keras. Dipinjamkan buku, kurang menimbulkan semangat untuk menyelesaikannya. Tapi memiliki buku sendiri, lebih cepat untuk mendorong menyelesaikan satu buku. Setelah terbiasa membaca, aku merasakan bahwa kehausan akan berbagai jenis buku terus meningkat. Bahkan, aku juga baru menyadari, walaupun sudah diajari semenjak kecil. Bahwa perintah membaca adalah perintah yang pertama sekali diperintahkan kepad Nabi Muhammad SAW. Dalam satu surat dalam Al-Qur’an pun juga ada ada perintah membaca ini. Iqra yang artinya bacalah. Hanya sesederhana itu rangsangan untuk membaca.

Kemudian usulan yang kedua,aku mengusulkan tentang tingkat literasi masyarakat di suatu “nagari” atau kelurahan, aku tidak memiliki judul yang baik untuk masalah ini. Namun aku hanya tau bahwa permasalahan literasi adalah permasalahan yang harus dianggap serius oleh negara ini. Menyebut negara, rasanya terlalu besar konteksnya. Cukuplah aku bicarakan “nagari” atau kelurahan saja. Dalam perjalanan beberapa tahun ini, hidup di rantau, kembali ke kampung memang kegiatan wajib dilakukan oleh si perantau. Semenjak mengenal buku, aku selalu memperhatikan tentang budaya membaca masyarakat sekitar. Suatu waktu, aku berdiri di sebuah tempat foto copy sambil menunggu angkot pulang. Kebetulan di tempat foto copy itu, berjeran koran-koran ternama di Sumatera Barat. Koran itu dijual, koran terbaru pula. Mulai dari Koran Singgalang, Padang Ekspress, dan berbagai koran lainnya. Cukup lama aku berdiri disitu, hanya untuk memperhatikan koran yang dibaca oleh mereka yang sedang bersantai santai di tempat foto copy. Ternyata, koran itu hanya jadi gantungan penghias di tempat foto copy. Hanya 1 atau 2 orang yang membaca koran tersebut. Dikatakan membaca, hanya membaca judulnya saja, tidak disertai dengan isi. Apa yang bisa didapat dari judul koran? Memfilternya dan mencari tahu isi tentang koran tersebut baru bisa mendapatkan informasi yang jelas. Tapi itu, tidak mereka lakukan. Aku hanya bergumam “kasian betul koran ini, kalau hujan, kena hujan, kalau panas, hanya jadi gantungan”

Usul ku yang dua itu kamu terima dengan baik. Respon dengan “udah di screen shoot usulan abang, nanti dipindahkan kedalam buku catatan”, langsung membuat ku senang bukan kepalang.

Akhirnya, kamu telah membantu menjawab keresehanku. Semoga apa yang telah kita diskusikan dua hari ini, berjalan dengan lancar. Doa ku semoga usulan ku menjadi usulan yang diterima oleh dosen pembimbing ketika kamu mengajukan proposal penelitian nanti.

Datanglah kembali untuk berdiskusi. Aku akan sangat senang jika kamu mau merepotkan aku.

SEMANGAT BAPAK TUNA NETRA

Panas terik Ibu Kota menemani saya melanjutkan perjalanan menuju tempat bekerja. Seperti biasa, pemandangan keegoisan orang-orang yang berkendaraan  menerobos sana sini, tidak peduli kendaraan orang lain yang akan lecet bahkan sampai rusak adalah hal yang lumrah di Ibu Kota ini.

Namun ditengah kebiasaan menerobos sana sini itu ada aturan yang harus mereka patuhi. Lampu merah merupakan kesempatan mereka untuk menahan keegoisannya. Mau tidak mau, mereka harus berhenti dan mematuhi aturan lampu 3 warna itu.

Seraya menunggu giliran untuk melanjutkan perjalanan, ada saja pemandangan yang menarik untuk diperhatikan. Orang yang sedang mengupil, memukul-mukul paha sambil bernyanyi-nyanyi, wanita dengan pakaian seksi, pakaian dalam orang lain yang keliatan belakangnya, pedagang asongan yang menjajakan daganganya, dan masih banyak pemandangan lain yang aneh, lucu dan juga memprihatinkan.

Pemandangan saya teralih kepada seorang bapak bapak pedagang asongan di perempatan jalan Kelapa Gading dari arah Rawamangun. Cukup ramai lalu lintas siang ini, lampu merah yang ditunggu menjadi hijau juga cukup lama. Ada seorang bapak-bapak menjajakan aqua botol dagangannya kepada pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Kelapa Gading. Ketika sampai disana, saya melihat dari belakang beliau menabrak sebuah motor yang sedang berhenti. Karena penasaran, saya tampar halus pundak bapak itu dari belakang sambil membeli aqua botol yang beliau jajakan. Saya kaget, karena bapak itu tuna netra atau tidak bisa melihat.

Ketika saya bayar aqua yang saya beli. Bapak itu bertanya, “ini uang berapa?”. 5 ribu Pak

Tapi beliau seolah tidak percaya dan bertanya lagi, “jangan bohong kamu, ini uang berapa? tanya beliau lagi. 5 ribu Pak.

Kemudian beliau bertanya lagi untuk meyakinkan, “ini bukan uang 10 ribu kan?”. bantah beliau. Tidak pak, itu uang 5 ribu”.

Harga aqua botol yang beliau jual memang seharga 5 ribu rupiah. Saya memang membayar dengan uang 5 ribu.

Suasana di lampu merah yang cukup lama itu menjadi ramai karena perhatian orang orang berpindah kepada saya dan bapak penjual aqua itu. 5 detik setelah membayar lampu sudah hijau, saya kembali melanjutkan perjalanan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, saya melihat masih ada 3 kardus lagi aqua botol yang akan beliau dagangkan.

Diperjalanan saya jadi memikirkan bapak yang menjual aqua tadi. Bapak itu memang tidak mau dikasihani, karena nada suara yang beliau ucapkan kepada saya waktu mengatakan “ini bukan uang 10 ribu kan?” adalah suara yang jujur untuk meyakinkan bahwa beliau memang tidak ingin dikasihani. Sepertinya, selama beliau berdagang, dengan segala kekurangan yang beliau miliki, dan kelebihan yang melekat pada diri Bapak itu. Banyak orang-orang yang membeli dagangan beliau karena kasihan. Perasaan kasihan selalu menimbullkan rasa empati dalam bentuk membayar lebih kepada bapak itu.

Adalah sebuah sikap yang wajar ketika melihat seseorang yang kekurangan tapi masih mau berusaha dan kita ingin memberi lebih. Namun dibalik itu, selalu ada nilai yang didapatkan oleh para pemberi empati ini.

Kejadian hari ini telah memberikan pelajaran bahwa kekurangan kesempurnaan fisik tidak melulu seseorang itu layak dikasihani. Mereka tampak lebih tegar, kuat dan mau berusaha daripada orang-orang yang diberikan kesempurnaan fisik.

Hikmah dari semua itu adalah bersyukur karena kita masih diberi kelebihan daripada bapak pedagang asongan tadi. Dan malu karena masih saja ada orang-orang yang merengek tidak mendapatkan pekerjaan, atau mengeluh karena pekerjaan tidak selesai, kepada Bapak yang kekurangan kesempurnaan fisik pedagang asongan perempatan jalan Kelapa Gading itu.

dan Akhirnya, Jakarta selalu memberikan pelajaran kepada mereka yang ingin mencobanya. Dibalik kekejaman Ibu Kota, masih ada nilai baik yang bisa didapatkan di Kota ini. Bapak asongan tuna netra adalah salah satu contoh dari orang kuat yang memiliki kekurangan kesempurnaan fisik. Masih banyak orang-orang tangguh dibelakang sana yang ceritanya mungkin tidak jauh berbeda dari bapak pedagan asongan di perempatan kelapa gading.

 

 

 

PERKENALAN DENGAN WIJHI THUKUL

Sebuah review film istirahatlah kata-kata
Ditulis oleh, Yanter Bahri

19 Januari 2017, film Istirahatlah Kata-Kata resmi tayang dibeberapa bioskop di Indonesia. Film ini menceritakan seorang tokoh yang selama ini hilang dan sampai sekarang tidak diketahui apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Wijhi Thukul namanya.

Sore itu, saya langsung bergegas menuju XXI Taman Ismail Marzuki Jakarta, untuk membeli tiket film istirahatlah kata-kata. Sekitar pukul setengah lima sore saya sampai disana. Rencananya saya ingin menonton film istirahatlah kata-kata pada jadwal tayang malam hari. Namun, sialnya saya terlambat. Ketika saya datang dan belum sempat bertanya apakah tiket film istirahatlah kata-kata masih ada atau tidak, wanita yang melayani penjulan tiket di XXI itu langsung mengatakan “jadwal film istirahatlah kata kata sudah penuh sampai malem”.

Saya pulang dengan menggurutu karena tidak dapat tiket. Namun senang karena antusias masyarakat untuk menonton film istirahatlah kata-kata sangat tinggi.

Tingginya antusias tersebut mungkin disebabkan oleh, Pertama, keingintahuan publik untuk mengenal Wijhi Thukul. Kedua, sebagai nostalgia bagi mereka yang dulu ikut berjuang bersama Wijhi Thukul. Ketiga, mereka memang pengaggum Wijhi Thukul. dan terakhir, sebagai bentuk solidaritas #MenolakLupa bagi para aktivis HAM yang masih memperjuangkan orang orang yang hilang pada masa orde baru.

Saya termasuk pada golongan pertama. Wijhi Thukul adalah orang baru bagi saya. Perkenalan dengan Wijhi Thukul baru dimulai beberapa tahun yang lalu melalui media sosial. Saya tidak punya apapun tentang Wijhi Thukul. Baik itu karya-karyanya atau apapunlah cara orang untuk menghargai jasa Wijhi Thukul. Hanya beberapa love tweet untuk belajar dari artikel tentang Wijhi Thukul.

Wijhi Thukul dikenal sebagai aktivis pro demokrasi. Perjuangannya melawan pemerintah Orde Baru waktu itu yang sangat otoriter, dituangkannya dalam bentuk puisi-puisi yang memanaskan kuping pemerintah yang sedang berkuasa, namun juga membangkitkan semangat orang-orang yang sedang ditindas oleh orde baru. Wijhi Thukul dikenal juga dengan “pengamen puisi”. Saya tidak tahu kenapa Wijhi Thukul diberi gelar seperti itu. Menurut saya sendiri, selama pelariannya dalam kejaran pemerintah Orde Baru, Wijhi Thukul sering mengamen di bis atau pun angkot dengan membacakan puisi. Puisi-puisi Wijhi Thukul selalu berkaitan dengan kehidupan rakyat kecil. kata-kata yang dikeluarkannya juga begitu tajam untuk menyindir pemerintah Orde Baru.

Kembali lagi ke Film.

Setelah tidak mendapatkan tiket tanggal 19 Januari, besoknya saya kembali lagi ke XXI Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kali ini saya datang lebih cepat, pukul setengah tiga saya sudah sampai. Kemudian langsung beli tiket, dan mendapatkan jadwal tayang jam 14.50 wib.

Saya menonton film ini sendirian, dapat kursi nomor 3 dari depan, kanan kiri saya tidak ada orang. Hanya saya. Mungkin memang sepi karena masih jam kerja. Pukul stengah lima sore saya keluar dari ruang bioskop.

Film Istirahatlah Kata Kata mungkin berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit.(Mohon koreksi jika saya salah)

Selama menonton fim ini. Ada tiga kejadian yang mengusik jiwa saya. Pertama, ketika Wijhi Thukul dan Thomas membeli arak, kemudian dihentikan oleh seorang aparat (mungkin) gila. Kedua, ketakutan Wijhi Thukul waktu memotong rambut ketika ditanya oleh seorang tentara yang kebetulan memotong rambut juga. dan Ketiga, kemarahan Si Pon yang dituduh perempuan lonte oleh salah satu tetangganya karena masuk hotel untuk bertemu Wijhi Thukul.

Saya ingin membahas tiga kejadian diatas.

Kejadian pertama, ketakutan sebagai buronan politik adalah ketakutan yang sulit dibayangkan. Perasaan was-was selalu menghantui orang yang mengalaminya. Curiga mencurigai adalah sifat yang wajar ketika menjadi buronan politik. Tidur tidak nyenyak karena takut ditangkap ketika terlelap. Kanan kiri depan beakang selalu menjadi perhatian untuk melihat keadaan aman ketika berjalan.

Kejadian kedua, aparat adalah orang yang mengejar Wijhi Thuku waktu itu. Bertemu disebuah tempat pemotongan rambut adalah peristiwa yang tidak bisa dielakkan. Ketakutan makin terlihat ketika Wijhi Thukul selalu menunduk ketika ditanya oleh aparat. Kecurigaan aparat mulai terlihat ketika temannya Wijhi Thukul adalah orang Medan. “Luas juga pergaulan orang ini. Satu orang Medan, satu orang Jawa. Kenal dimana mereka?” kalau tidak salah itulah yang diungkapkan oleh aparat ketika bertanya asal Wijhi Thukul.

Muncul pertanyaan saya, apa yang terjadi setelah tentara curiga terhadap mereka? apakah Wijhi Thukul mulai dikejar oleh aparat yang mencurigainya waktu itu?

Dan ketiga, Si Pon dituduh lonte oleh tetangga dekat rumahnya karena melihat dia masuk ke sebuah hotel. Tuduhan-tuduhan seperti ini memang menyakitkan. Kemarahan si Pon adalah sikap wajar dari dari buruk sangka yang dikeluarkan oleh tetangganya. Tidak ada yang bisa menerima perkataan tersebut dengan cara apapun.

Si Pon memang istri yang tabah dan setia. Ditinggalkan suami karena menjadi buronan politik, diawasi oleh intel yang mencari suaminya namun tetap diam ketika ditanya oleh intel-intel itu. Anaknya yang perempuan-pun begitu. Tidak pernah berkata-kata tentang kemana Ayah-nya pergi.

Sebelum menonton film Istirahatlah Kata-Kata, saya membayangkan kalau film ini akan menunjukkan kemahiran Wijhi Thukul berpuisi. Peristiwa-peristiwa yang membuat Wijhi Thukul menulis puisi yang begitu tajam.  Tapi saya tidak menemukan itu. Puisi Istirahatlah Kata-Kata pun tidak ditampilkan secara gamblang dalam film ini. Hanya terdengar sajak sajak diikuti oleh film yang terus berjalan.

Namun dibalik kritikan singkat itu. Saya sangat suka film ini. Film Istirahatlah Kata-kata sangat diperlukan untuk mengenal tokoh-tokoh yang pernah berjuang demi negara ini. Film seperti Istirahatlah kata-kata adalah sarana edukasi yang baik bagi kami yang tidak merasakan kekejaman orde baru. Mudah-mudahan setelah Istirahatlah Kata-Kata ada lagi film yang menceritakan Wijhi Thukul

Terima kasih.

 

MAAFKAN MURID MU, BU RATNA

6 Januari 2017 jam  21.02 masuk sebuah pesan dari salah satu media sosial. biasanya aku jarang sekali membuka media sosial satu ini. Tapi membaca notif yang ada di layar hp, tertulis nama “Ibuk Ratna SD send a message”.

Isi pesan itu “Assalamualaikum Yanter, gimana kabarnya sudah lama tak menelfon mudah-mudahan baik baik saja”.

Bu Ratna adalah salah satu guru ku di SD N 06 Koto Gadang Guguak, Solok Sumatera Barat.  Aku belajar dengan Bu Ratna ketika duduk di bangku kelas 2 SD. Tidak banyak yang bisa aku ingat ketika beliau mengajar. Satu momen yang tidak pernah aku lupakan adalah beliau selalu menagih kami uang 500 perak untuk menabung setiap hari. Beliau tulis di buku tabungan berwarna hijau. Aku masih ingat itu.

Aku senang bahwa sampai sekarang beliau tidak pernah lupa nama ku. Beliau pernah bilang “cuma Yanter saja yang ibu ingat. Ibu lupa Yanter satu angkatan sama siapa”.

Kembali ke pesan tadi.

Pesan dari Bu Ratna benar benar membuat ku terperanjat.

Kenapa harus beliau guru ku yang menghubungi aku pertama sekali??!! Kenapa aku tak pernah berinisiatif untuk menghubungi mereka lagi?!!! Kenapa aku menjadi sombong entah kepalang mentang mentang sudah mendapatkan pekerjaan di ibu kota??!!

Sekelumit kemarahan bodoh itu sangat menyesakkan dada saat ini.

Maafkan Murid Bu Ratna

Dulu, ketika masih kuliah aku sangat sering menelfon ibu. Menanyakan kabar ibu, bercerita tentang kuliah yang sedang aku jalani, meminta doa restu ibu ketika aku akan ujian tengah semester sampai akhir semester. ha ha hi hi bersama ibu.

Ketika aku berikan kabar bahwa aku sudah mendapatkan toga, beliau menangis.

Tut.. tut.. tuut.. tiba tiba telfon terputus karena beliau tidak kuat menahan air mata.

Tidak lama aku menelfon beliau lagi.

Tanpa Assalamualaikum, atau halo, Bu Ratna langsung bilang “Yanter, ibu sangat senang mendengar kabar ini nak. Perjuangan kamu selama ini tidak sia sia. Kamu sering menyapa ibu di Pasar ketika kamu sedang mengojek untuk biaya sekolah, kamu selalu datang ke sekolah untuk melihat kami. Guru guru di SD pasti senang mendengar kabar ini Nak. besok ibu sampaikan di sekolah. Apalagi bu Winta, pasti sangat senang mendengar kabar ini Nak. Kamu telfon Bu Winta sekarang, kasih tau beliau kalau kamu sudah wisuda”. Telfon-pun  terputus lagi.

Setelah wisuda, aku pindah ke Jakarta.

Ibu kota adalah tempat mengadu nasib. memperbaiki kualitas hidup bersama masyarakat urban disini. Iming iming gaji besar, hidup layak telah didapatkan kota ini.

Sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan, Bu Ratna. Aku yakin engkau sangat senang mendengar kabar ini.

Tapi ucapan itu belum pernah aku sampaikan. Hanya bermodal jempol aku bisa mengucapkan lewat tulisan ini.

Maafkan Murid Mu Bu Ratna

Aku lupa engkau orang yang mengenalkan ku apa itu A. apa itu B sampai dengan Z.

Aku lupa engkau yang mengajarkan aku membaca “BUDI”,

Aku lupa engkau yang mengajarkan aku segala hal.

Aku lupa engkau yang membesarkan aku sampai seperti sekarang.

Maafkan Murid Bu Ratna

Aku terlalu sibuk dengan rutinitas ku sekarang. Tidak pernah menyempatkan waktu untuk mengobrol sebentar seperti waktu aku kuliah.

Kemacetan Ibu kota telah membuat ku menjadi seorang yang angkuh. Membuat ku lupa bahwa engkau masih menunggu kabar anak mu ini.

Maafkan Murid Mu Bu Ratna

Tidak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan selain kata maaf.

Rasanya kata maaf ini juga tidak cukup untuk menembus dosa ku yang telah melupakan jasa mu.

Ingin sekali aku bertatap muka dengan mu ibu guru ku. Datanglah dalam mimpi ku Bu Ratna. Aku ingin bertemu dan meminta maaf pada mu.

Sekali lagi. Maafkan aku Bu Ratna

CERITA TENTANG R

Akhir pekan telah tiba. Saatnya menghilangkan penat dari berbagai aktivitas kerja yang melelahkan.

Pagi ini ada kesempatan weekend bareng rekan kantor di waterboom Pantai Indah Kapuk.

Jadwal acara yang awalnya akan dimulai pukul 08.00 WIB, akhirnya baru dimulai jam 10. Semuanya berkumpul, acara dimulai. Tidak ada yang istimewa dari kegiatan di Pantai Indah Kapuk itu. Hanya berenang biasa sekedar pelepas penat. Acara selesai jam 3 sore.

Setelah acara di Pantai Indah kapuk, saya melanjutkan perjalanan ke UIN Syarif Hidayatullah. Saya akan bertemu dengan seseorang yang sebenarnya sudah lama ingin saya jumpai. Namanya R. inisial saja cukup lah ya.

Sebelumnya saya akan menceritakan awal pertemuan dan apa saja yang terjadi antara saya dan R.

R adalah teman saya waktu kecil, mungkin saya berumur 7 tahun, sedangkan R baru 3 tahun. Ketika bulan Ramadhan, saya sering ikut Almarhum Bapak ke Masjid untuk shalat berjamaah. Pada bulan puasa itu Bapak ditunjuk sebagai imam untuk jamaah disana. Nah itulah waktu pertama kali saya bertemu dengan R.

Tidak ada yang berubah antara R yang dulu dan dia yang sekarang. Badannya masih gemuk, lucu, dan menggemaskan. Tingginya hanya seleher saya. Sekarang R kuliah di UIN Syarif Hidayatullah.

Komunikasi pertama kali dengan R sekitar tahun 2014, waktu saya menemukan nama R di facebook, saya bertanya kepada saudaranya R, namanya F, tentang R yang berkomentar di facebook itu. “F itu bukannya R temen waktu kecil ya?”. “Iya bang”. Terus saya mencoba menghubungi R.

Awalnya R memang bingung siapa saya. Mungkin dia lupa, bahwa kita dulu pernah main di kali depan Surau Manggih. haha

Kalau tidak salah, F pernah memberitahu saya bahwa dia bertanya kepada F tentang saya. Dan F pun memberitahu semuanya. Barulah setelah itu komunikasi kami menjadi lancar. Waktu itu R masih sekolah di Jawa Timur.

Komunikasi terus berjalan, saya terus bertanya kapan R akan pulang ke Minangkabau. Ternyata kabar yang saya dapatkan sangat mengejutkan. Dia akan pulang pada bulan puasa yang akan datang.

Setelah lebaran tahun 2014, Akhirnya saya bertemu dengan R setelah sekian tahun tidak pernah dapat kabar, apalagi tatap muka. Waktu itu saya bertemu dengan R di Sari Manggis, sebuah objek wisata yang ada di Nagari Guguak. Saya masih ingat, waktu itu R menggunakan baju lengan panjang, dan celana Levis. Dia memegang sebuah tablet. Badannya belum sebesar yang sekarang. *ups. Masih imut imut dan lucu.

Waktu itu, R tidak banyak berbicara. Karena dia masih gagap bahasa Minangkabau. R sangat kaku, dia hanya diam dan ikut tertawa mendengarkan apa yang saya bicarakan dengan F.

Hari sudah sore, dan kami kembali ke rumah.

Komunikasi saya dengan R setelah pertemuan di Sarimanggis itu semakin lancar. Akhirnya suatu waktu saya mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada R. Dan dia menerima.

Hubungan saya dengan R berjalan hanya dalam hitungan hari. Saya paham, R belum terlalu mengenal saya, tapi dia juga tidak bisa atau mungkin belum pernah menolak seseorang yang menyatakan perasaan.

Setelah hubungan itu berakhir. Saya tidak pernah lagi berkomunikasi dengan R. Semua akun media sosial yang berteman dengan saya, diblokir. Saya terus mencari-cari R? Kenapa dia memblokir saya? Sampai suatu waktu dia melepaskan blokir itu. Saya sangat senang, akhirnya bisa berkomunikasi lagi.

Komunikasi saya dengan R dimulai lagi sekitar bulan Maret 2016 (mungkin).

Bulan Juni 2016 saya bertenu lagi dengan R di kampung. Saya datang ke rumahnya di Taeh Pasar Usang. Pertemuan itu sangat singkat. Dirumahnya, saya bertemu dengan orang tua, kakak dan neneknya R. Saya memang dekat dengan neneknya R. Karena neneknya adalah jamaah bapak saya waktu jadi imam di Surau Manggih. Setiap saya pulang kampung. Pasti disuruh mampir ke rumah neneknya.

Saya datang jam 4 sore, dan R baru datang jam stengah 6. Tidak ada yang kami bicarakan. Karena ketika R datang, saya sudah ingin pamit pulang.

Beberapa hari setelah itu, saya ditelfon oleh R. Dia memberitahu saya bahwa dia menanyakan kepada ibu-nya tentang saya. Saya kaget. Saya tidak bisa berkomentar apa apa. Karena waktu itu, saya sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Namun saya tidak memberitahu R pada waktu itu.

Setelah saya sampai di Jakarta, saya kembali berkomunikasi dengan R. Saya memintanya untuk bertemu. Namun pertemuan itu terus tertunda. Aktivitas saya waktu itu berdagang. Tidak ada hari libur. Susah sekali untuk mengatur pertemuan kami.

Pertemuan dengan R baru terlaksana kemaren malam di UIN Syarif Hidayatullah, hari sabtu tanggal 26-11-2016.

Perjalanan menuju UIN Syarif Hidayatullah saya tempuh dalam waktu hampir 3 jam.

Awalnya saya naik ojek dari waterboom PIK sampai halte busway penjaringan, kemudian naik Busway dari halte Penjaringan, transit di Grogol, dan berhenti di Lebak Bulus. Setelah itu saya naik angkot menuju UIN.

Pukul 6.10 sore saya sampai di UIN. kemudian saya hubungi R, bahwa saya sudah sampai.

Saya bertemu R di depan masjid Fathullah. Saya kaget pas melihat R, jantung saya deg-degan. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu. Dia mengenakan baju lengan panjang, dan memakai Rok panjang.
Saya meminta R untuk mencari sebuah tempat ngopi untuk ngobrol ngobrol. Tapi R juga tidak tau tempat ngopi di kampusnya itu. Kami berhenti di salah satu pesanggrahan yang ada di UIN. Es teh manis, teh anget dan roti bakar menemani obrolan kami malam itu.

Banyak sekali yang kami bicarakan. mulai dari nostalgia, pengalaman hidup, pengalaman kuliah, apapun menjadi obrolan kami malam minggu itu.

Ada obrolan khusus antara saya dan R. Ini tentang perasaaan masing masing. Sebelum pertemuan saya dengan R sekarang. Ada perasaan yang dirasakan oleh salah satu diantara kami. Itulah yang menyebabkan kami harus bertemu secepatnya. Menjelaskan tentang perasaan itu, tidak elok jika di ungkapkan melalui media.

Suasana menjadi tegang. Untungnya obrolan itu hanya sebentar saja. Saya dan R memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada yang kuasa. Kalau memang jodoh toh kita akan juga dipersatukan.

Obrolan diganti dengan masalah agama. Dalam hal ini, R lebih jago daripada saya. Saya banyak belajar dari R. Hal hal yang kecil yang dia sampaikan sangat menempel di kepala saya.

Hari sudah malam, jam 9 malam saya pulang diantarkan oleh R sampai pintu gerbang UIN. Saya naik ojek sampai stasiun pondok ranji, dan berhenti di stasiun duren kalibata. Saya sampai di rumah jam stengah sebelas malam.

Sebelum tidur, saya bilang kepada R. Kalau saya akan menuliskan hari kemaeren di blog saya.

Inilah akhir tulisan tentang R. Semoga kita dipertemukan lagi R E.

SKS YANG LUCU

Selamat pagi SKS.

Bukaaaan. Bukaan Satuan Kredit Semester. Tapi dia seorang wanita. Ahaaaai. Biarlah kita sebut saja dia SKS.

Pagi ini terlalu dingin untuk memulai aktivitas, aku hanya ingin menikmati tebalnya selimut biru ku ditengah kencangnya angin yang menggemparkan atap rumah. Tapiiiiiiii !!!!

Tiba-tiba hasrat ku untuk menulis tentang mu begitu menggebu-gebu SKS. Padahal tidak ada yang spesial hari ini. Apalagi kita tidak bidak berjumpa, hanya berkomunikasi melalui media. Yaa sebagaimana biasa kita lakukan.

Hmmm…. aneh yaaaaaa. Biarlah aku mengungkapkan kegirangan ku pagi ini SKS. Meski kopi sudah tidak bisa dinikmati, tapi laptop masih setia menemani. #Kucek-kucek mata

Aku mulai dari ketika aku  mencoba mengingat kembali dari kapan kita sudah sedekat ini??

Aku mencoba mengingat kembali kenapa kita bisa sedekat ini???

Dan aku juga mencoba mengingat kembali, apa yang pernah kita lewati sehingga kita bisa seperti sekarang ini??

Aaah Sudahlah…. Biarlah sekelumit pertanyaan itu tersimpan dalam catatan ini, sampai aku benar-benar menemukan waktu yang tepat untuk bertapa, mencari jawaban dari pertanyaan tadi.

Aku hanya ingat bebaerapa kejadian yang menurut ku unik, tapi menyenangkan untuk ditulis. #Sisir rambut.

Pertama, aku ingat sekali ketika kita berkomunkasi melalui salah satu media sosial.  Sekitar jam 23.05 waktu itu. Aku sedang mengerjakan tugas kuliah, sambil berkomunikasi dengan mu. Jreeeeng….jreeeng dan kita-pun  bersepakat untuk video call-an #siul-siul

Waktu kita video call-an, kamu sedang menikmati liburan kuliah mu di Batam, dan aku sedang menikmati tugas kuliah ku di Semarang. Aaaah terima kasih teknologi. Engkau telah mendekatkan yang jauh hahai

Kita ngobrolin apa aja asal judulnya tetap ketawa. Tapi aku ingat bahwa waktu itu kita video call-an sampai larut malam. ceileeeeh

Setelah itu komunikasi kita terus berlanjut. Hampir setiap hari kita berkomunikasi, selalu ada saja topik yang ingin dibicarakan. Pagi, siang, malam hp ku selalu berdentingan mendapatkan balasan dari mu. Setiap hari selalu seperti itu. Ihiiiir

Teruuus yang kedua, aku ingat ketika aku pulang bulan Mei kemaren, waktu mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, kamu adalah orang kedua setelah Ibu-ku yang ingin aku hubungi untuk mengabarkan bahwa aku sudah pulang. Tapi,,,, semua itu ngga jadi aku lakuin karena aku ingin menjadikan kabar itu sebagai kejutan untuk mu. *Paan sikh

Dan yang ketiga, aku ingat pertama kali kita ketemu setelah 2 tahun tidak berjumpa, waktu itu kamu sedang olahraga sore di jalan baru daerah Pasar Usang. Kamu berangkat bersama dua orang teman mu. Aku akan pergi ke Koto Gaek untuk menemui Wali Nagari bersama seorang rekan ku. Kita bertemu diperbatasan jalan antara Koto Gadang dan Koto Gaek. Angin kencang dan hujan gerimis mengawali pertemuan kita waktu. Sungguuuh waktu yang tidak tepat untuk bertemu. hahaha

Jantung ku tiba-tiba berdenyut kencang, aku kaget ketika tahu ada kamu diseberang jalan, aku menyapamu, dan dua orang teman mu. Setelah itu kamu berfoto-foto, jeprat jepret jeprat jepret beberapa kali petikan. Ngga lama kemudian aku pergi untuk melanjutkan rencana ku.

Entah kapan kita bertemu untuk kedua kalinya. Aku lupa. Ingatan ku memang payah untuk mengenang sesuatu secara runtut. Tapi aku ingat, pertemuan kita ketiga, keempat, kelima dan selanjutnya sampai dengan hari kemaren.

Dua hari yang lalu kita masih bertemu pada kegiatan tahunan kenagarian Guguak. Kita ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman, ditemani segelas kopi panas yang disediakan oleh panitia. Aku senang melihat mu berbicara. Kamu enak dipandang (pengakuan orang banyak), tapi aku lebih suka melihat gaya mu berbicara. Lucu. Kamu jago dalam memperagakan apa yang dilakukan seseorang. Ditambah bahasa tubuh mu yang semakin meriuhkan suasana.

Malam itu, kita saling mengejek satu sama lain. Memang begitulah kita, sekalinya ketemu langsung nostalgia masa masa sekolah yang berujung ejek-ejekan. Hahahaha

Gelak dan Tawa tidak tertahankan, ekspresi wajah yang kena ejekan juga semakin meningkatkan kehebohan sekitar.

Cukuuup…cukuuuup… Sekarang sudah jam stengah 7. Hari sudah mulai terang.

Yaa…yaaa..

Terima kasih SKS. Aku senang mengenalmu. Tetaplah seperti dirimu saat ini, selalu riang, menjadi diri sendiri. Ngga usah terlalu murung soal percintaan, nikmatin aja apa yang ada hari ini.

Orang bijak pernah bilang gini “Jodoh itu sudah ada yang ngatur, deketin aja yang ngatur jodoh”. #Tarik Selimut

Bhaaaaaaaaaaaay
(Tulisan ini aku buat sebelum bulan Ramadhan 2016, tapi aku lupa tanggalnya, karena sudah beberapa kali editan)